Cara Fermentasi Kotoran Kambing agar Tidak Panas dan Aman bagi Tanaman
Kotoran kambing, atau yang sering disebut "srinthil" oleh para petani, adalah salah satu pupuk organik terbaik yang disediakan alam.
Baca Juga:
- Mengapa Botol Kaca Harus Didaur Ulang? Dampak Besar di Balik Langkah Kecil
- Manfaat Kantong Sampah dalam Menjaga Kebersihan dan Kesehatan Lingkungan
- Mengapa Limbah Kabel Begitu Berharga? Rahasia Logam di Balik Pembungkus Karet
Kandungan hara makro seperti Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K) di dalamnya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan vegetatif maupun pembuahan. Namun, ada satu kesalahan fatal yang sering dilakukan pemula: langsung menebarkannya ke tanaman dalam kondisi segar.
Kotoran kambing yang masih baru bersifat "panas" karena proses penguraian alaminya menghasilkan suhu tinggi dan gas amonia yang pekat. Jika langsung mengenai akar, tanaman bisa layu, menguning, bahkan mati. Oleh karena itu, proses fermentasi adalah langkah wajib untuk menjinakkan kotoran ini agar menjadi nutrisi siap serap.
Mengapa Harus Difermentasi?
Selain menurunkan suhu (dekomposisi), fermentasi berfungsi untuk:
Membunuh Patogen: Suhu panas saat proses fermentasi awal akan mematikan bakteri jahat dan biji-biji gulma.
Mempercepat Penyerapan: Unsur hara dalam kotoran padat diubah menjadi bentuk yang lebih sederhana sehingga akar tanaman lebih mudah "makan".
Menghilangkan Bau: Fermentasi yang berhasil akan mengubah aroma menyengat menjadi bau tanah yang segar.
Persiapan Alat dan Bahan
Untuk membuat pupuk fermentasi berkualitas, Anda memerlukan:
Kotoran Kambing: 100 kg (pastikan sudah kering atau agak kering).
Starter Bakteri (EM4 Pertanian): 2-3 tutup botol.
Molase/Gula Merah: 100 ml (sebagai makanan bakteri).
Air: Secukupnya (untuk melarutkan).
Terpal atau Karung: Untuk menutup tumpukan.
Langkah-Langkah Fermentasi
1. Penghancuran (Opsional tapi Disarankan)
Kotoran kambing berbentuk butiran keras yang sulit hancur. Jika memungkinkan, giling atau hancurkan butiran tersebut agar luas permukaan yang terkena bakteri lebih besar, sehingga proses dekomposisi lebih cepat.
2. Aktivasi Bakteri
Campurkan EM4 dan molase ke dalam satu ember air. Diamkan selama 15–20 menit hingga bakteri "bangun" dan siap bekerja.
3. Pencampuran dan Pengaturan Kelembapan
Hamparkan kotoran kambing, lalu siramkan larutan bakteri secara merata sedikit demi sedikit. Aduk menggunakan sekop. Kunci keberhasilannya ada pada kadar air: sekitar 30-40%.
Cara mengecek: Ambil segenggam kotoran lalu remas. Jika menggumpal tapi tidak mengeluarkan tetesan air, berarti kelembapannya sudah pas. Jika hancur, tambahkan air; jika becek, tambahkan kotoran kering.
4. Penutupan (Proses Anaerob)
Tumpuk kotoran di tempat yang teduh (tidak terkena sinar matahari dan hujan secara langsung). Tutup rapat menggunakan terpal. Pastikan tidak ada udara luar yang masuk secara bebas agar bakteri anaerob bekerja maksimal.
5. Pembalikan dan Pengecekan
Diamkan selama 3–4 minggu. Setiap satu minggu sekali, buka terpal dan aduk (balik) tumpukan untuk membuang gas panas yang terperangkap, lalu tutup kembali.
Ciri Fermentasi Berhasil
Pupuk kotoran kambing dikatakan matang dan aman jika:
Suhu Dingin: Saat tangan dimasukkan ke dalam tumpukan, suhunya stabil (sama dengan suhu ruang).
Bau: Tidak lagi berbau kotoran atau amonia, melainkan berbau seperti tanah.
Warna: Berubah menjadi lebih gelap/hitam.
Tekstur: Lebih remah dan mudah hancur saat ditekan.
Dengan melakukan fermentasi yang benar, Anda tidak hanya menyelamatkan tanaman dari risiko gagal tumbuh, tetapi juga berinvestasi pada kesuburan tanah jangka panjang. Selamat mencoba!

.png)
0 Response to "Cara Fermentasi Kotoran Kambing agar Tidak Panas dan Aman bagi Tanaman"
Posting Komentar